Sabtu, 19 Juni 2021

Memenangkan 'Akhir"

 

Perebutan gelar juara Liga Prancis  ( Ligue 1 ) tahun  2020-2021  sungguh sangat menarik sampai di penghujung kompetisi ( Pekan ke -38 ). Bagaimana tidak, kepastian pemuncak klasemen ditentukan pada pertandingan tandang terakhir dari dua klub yang bersaing ketat.  Yaitu antara  Paris Saint German ( PSG) dengan Lille.

PSG, sang juara  Liga Prancis tiga tahun berturut turut adalah Tim bertabur bontang,   diperkuat pemain bintang sekaliber Neymar. Walaupun pada musim kompetisi ini tidak sedigdaya musim kompetisi 2019-2020, namun pasar taruhan masih memegang mereka sebagai kampium untuk empat tahun berturut-turut. Sedangkan Lille, walaupun tidak bertabur bintang seperti rivalnya, namun tim besutan Christophe Galtier dikenal makin solid.

Pada laga pamungkas tanggal 23 Mei 2021, begitu wasit meniupkan peluit panjang tanda pertandingan usai, team dan pendukung Lillie  bersorak. Dengan menorehkan kemenangan atas  Klub Angers 2-1 berarti mereka kembali ke podium juara- yang mereka rasakan terakhir pada tahun kompetisi 2010-2011.

Padahal PSG juga mengantongi kemenangan atas Klub Brest 2-0. Namun kemenangan tersebut ‘sia-sia’. Tim Elite tersebut baru bisa ditahbiskan sebagai Juara Liga Prancis 2020-2021,  jika Tim  Lille gagal memang di  markas Angers.  Posisi klasemen sampai di pekan ke 37, PSG tertinggal satu point dari Lillie. Karena sama-sama menang, jadilah Lilie menjadi pemuncak klasemen dengan keunggulan satu point tersebut, 83 banding 82!  Maka Christophe  Galtier dapat meninggalkan klub tersebut dengan kepala tegak. Akhir yang sempurna.

              Pertandingan belum berakhir sampai dengan pluit panjang dibunyikan oleh wasit. Semua masih bisa terjadi.  Teruslah berjuang, jangan menyerah walaupun pertandingan menuju detik-detik terakhir.


Masih di bulan yang sama.  Pada tanggal 29 Mei 2021. Kali ini mengenai final laga bergengsi di benua Eropa: Final Liga Champion Musim kompetisi 2020/2021.

Siapapun yang menonton pertandingan tersebut langsung tentu mengingat bagaimana dua kesebelasan elit dari tanah Inggris saling berhadapan di stadion Estadio Do Drago-Portugal : Chelsea VS Manchester City. Hasilnya, kita sama-sama tahu. The Blues-Chelsea sang pemenang 1-0. Gol emas dicetakkan oleh pemain termahalnya yaitu  Kai Havertz.

Yang menjadi sorotan kita bersama adalah betapa seru jalannya pertandingan. Di klasemen akhir Premier League, Manchester City adalah sang pemuncak klasemen liga Inggris; Sedangkan Chelsea yang finish di urutan ke-4. Sebagai tim yang saling berhadapan di berbagai liga di Inggris,  tentunya masing-masing tim sudah  tahu persis kekuatan dan kelemahan, trik maupun taktik lawannya ( tahu sama tahu ).  Namun Final Liga Champion, bisa lain lagi ceritanya.  Sungguh laga yang ditunggu-tunggu penggila sepak bola.

Benar saja! Sejak wasit meniupkan pluit tanda dimulainya partai final tersebut, kedua kesebelasan menunjukkan pertandingan terbuka yang saling menyerang /  menekan lawan. Seperti diketahui, satu-satunya gol yang tercipta di laga tersebut terjadi pada menit 42. Mengejar ketinggalan score, pasukan Manchester City berusaha menguasai jalannya babak kedua. Demikian juga pihak Chelsea yang tidak mau terlena dengan keunggulan score sementara. The Blues cenderung merapatkan pertahanan sambil melakukan serangan balik atas gigihnya usaha anak asuh Josep Guardiola  menggempur gawang team besutan Thomas Tuchel.

Sampai laga usai, score tidak berubah : 1-0 untuk Chelsea! Walaupun Manchester City dalam debutnya di final ini gagal, namun siapapun yang menyaksikan laga tersebut memberikan kredit yang positif untuk mereka. Atas perjuangan ‘hidup mati’ sepanjang pertandingan.

Sebelum kompetisi / pertandingan di mulai , setiap tim mempunyai peluang yang sama  sebagai pemenang.  Prediksi di atas kertas dan kenyataan dilapangan tidaklah selalu sama. Jadi, karena siapa pemenangnya sebenarnya baru akan diketahui setelah kompetisi berakhir, janganlah menempatkan diri  ‘kalah sebelum bertanding’.


Dalam keseharian, kita kerap dituntut sebagai pemenang, di tengah perjuangan hidup yang tidak mudah. Berjuang sampai titik akhir atau jalan di tempat atau mundur saja atau.... apa pilihanmu?

Sabtu, 24 April 2021

Memenangkan 'Assist'

 

Bukan Adam Szalai, bukan pula Zoltan Steiber  -para pencetak gol kemenangan Hungaria atas Austria 2-0.  Namun Laszlo Kleinheiler yang terpilih menjadi Man of the Match (Pemain Terbaik pada suatu pertandingan)  di laga awal di Group F Piala Eropa 2016 lalu. 

Siapapun yang menyaksikan laga seru tersebut pastinya sependapat bahwa gelar tersebut memang pantas disematkan kepada Laszlo Kleinheiler. Gelandang tengah _yang baru berusia 22 tahun, saat itu _ dinilai dengan cerdas dan tajam mampu merepotkan lini belakang kesebelasan nasional Austria.


Walaupun tidak mencetak gol, sepanjang pertandingan Kleinheiler, gelandang serang_  dengan signifikan memberikan umpan-umpan matang ( chances created ) kepada para penyerang Hungaria yang berpotensi membahayakan gawang Austria. Usaha tersebut tidak sia-sia. Gol pertama yang dilesakkan oleh Adam Szalai misalnya.  Berawal dari umpan sempurna (assist goal) yang disodorkan  Kleinheiler kepada Szalai. Lalu dengan kerjasama satu dua, Szalai mantap menjebol gawang Austria di Stade Matmut Atlantique, Bordeaux Prancis. 1-0 untuk team asuhan Bernd Storck !

Dalam permainan sepak bola, Assist dipahami sebagai kontribusi pemain yang membantu tercetaknya gol oleh pemain lain.  Sebagai olahraga tim, tentunya suatu assist  tercipta berkat kerjsama secara kolektif. Dikatakan assist jika operan / umpan / umpan silang  dari pemain terakhir sebelum ke si penendang gol, tersebut menjadi gol.

Sebagai penghargaan atas peran pentingnya tersebut, tidak jarang pemberi assist diganjar sebagai pemain terbaik suatu laga. Bahkan pada gelaran Piala Eropa 2016 tersebut, seorang mega bintang lapangan hijau dari Portugal, Christiono Ronaldo, terpilih menjadi Man of The Match  pada partai semifinal melawan Wales. Selain mencetak satu goal dia pun menciptakan assist.


Jika menonton ulang rekaman pertandingan sepakbola, kadang timbul pertanyaan, mengapa seorang pemain yang sudah di depan gawang mengalihkan bola / memberi assist kepada pemain lainnya? Mengapa tidak langsung menendang bola ke gawang lawan?

Atas pertanyaan tersebut Timo Werner, Striker Chelsea FC dan skuat Tim Nasional Jerman memberikan jawaban yang meyakinkan. Bahwa ia ‘melewatkan’ kesempatan mencetak gol yang sudah di depan mata dan mengoperkannya / memberikan assist ke rekan yang lain karena ada pemain lain yang mempunyai peluang yang lebih besar untuk mencetak gol daripadanya.



“ Saya memiliki lebih banyak assist daripada gol, yang tidak biasa bagi saya daripada musim lalu. Sepanjang membantu tim, itu baik-baik saja.”

Bahkan seorang striker seperti Hary Kane dari Tottemham Hotsspur, sempat mengemas assist lebih banyak ketimbang mencetak gol ( 8 banding 5) saat Liga Inggris 2020-2021 sedang berjalan.  Hal tersebut menjadi pertanyaan dalam satu wawancara di bulan Oktober 2020 lalu. 

Mengenai hal tersebut ia mengatakan bahwa rekan striker lainnya yaitu ,  Son Heung Min memang mempunyai peluang lebih baik untuk mencetak gol. Dan benar ! Son Heung Min tidak mensia-siakan ‘pengorbanan’ Kane memberikan assist. Sebagian torehan golnya berasal dari assist Harry Kane.


Saat di wawancara oleh Sky Sport Germany, sambil bergurau Thorgan Hazard mengomentari  duo stikernya di Borussia Dortmund,  Erling Haaland agar memberi kesempatan rekan setim berkontribusi :

“ saya rasa Haaland harus rajin memberikan assist, dia terlalu banyak mencetak gol. Memberikan assist dan tidak mencetak gol bukanlah hal yang buruk.”


Mari bersepakat dengan pendapat simpatik Hazard; Dengan catatan, jangan sampai operan umpan tersebut malah mempersulit peluang untuk terciptanya gol atau membuang kesempatan menjadi pemenang.

Ya, dalam suatu pertandingan, memperjuangkan kemenangan adalah hal penting.  Namun dalam olahraga tim seperti sepakbola,  kerjasama yang solid sebagai team untuk mencapai kemenangan tidaklah kalah penting.  Tidak masalah kita atau anggota tim lain yang mencetak gol.  Menjadi masalah,  jika kita tidak berkontribusi atau bahkan merintangi  perjuangan tim untuk meraih kemenangan dengan fair play.

Sejatinya, kualitas seorang pemenang tidak akan berkurang karena assist yang di ekseskusi gemilang oleh orang lain.  

 

We are a winning team



Sabtu, 27 Februari 2021

"MEMENANGKAN" KEKALAHAN

 

 

Pemenang Juga (Sering) Kalah

Piala Dunia 2014, menorehkan catatan kekalahan paling memalukan bagi Brazil. Jagat sepak bola dunia dibuat tak habis pikir. Bagaimana tidak, tim asuhan Luiz Felipo Scorani, dihajar dengan skor  telak oleh Tim nasional Jerman  1 – 7 ! Tragisnya,  5 gol pertama tersebut di jaringkan oleh tim asuhan  Joachim Low dalam jangka waktu hanya 30 menit! 

Brazil adalah tuan rumah alias bermain di kandang sendiri. Tidak sedikit punggawa timnas Brazil bermain di klub-klub Elit Eropa, tentulah tidak asing dengan teknik dan taktik mereka. Apalagi Brazil mempunyai prestasi gemilang sepanjang sejarah Piala Dunia sebelumnya : juara Piala Dunia 5 kali. Diprediksikan akan melenggang sampai ke puncak kejuaraan alias akan menjadi juara Piala Dunia untuk ke -6 kalinya. Deretan ‘keuntungan’ tersebut seakan menguap dengan terhentinya langkah Brazil di babak semi final tersebut.

                                                  pic. by.  secure.static.goal.com

Kekalahan yang dikenang sebagai “Tragedi Mineirazo” tersebut, seakan membuka ingatan pahit sebelumnya. Ya, publik Brazil masih mengingat kekalahan tim nasional mereka pada Piala Dunia tahun 1950. Bedanya kekalahan tersebut terjadi di babak final saat melawan Uruguay. Namun sama pahitnya. Berlaku sebagai penyelenggara. Berlangsung di stadion kebanggaan mereka. Sehingga mereka sebut sebagai “ Tragedi Maracanazo. “

Brazil berusaha bangkit, menatap piala Dunia 2018.

Namun hasilnya lebih buruk, kali ini kalah di babak perempat final melawan Belgia 1-2.

Setelah disingkirkan oleh Belgia, Neymar_ yang memperkuat Tim Nasional Brazil Pada piala dunia 2018 ( dan 2014 ) menuliskan di akun Instagramnya :

“Saya dapat memberitahu anda bahwa ini adalah saat paling menyedihkan dalam karier saya. Rasa sakitnya sangat besar  karena kami tahu kami bisa pergi jauh. Kamu tahu kami memiliki kesempatan melangkah lebih jauh, untuk membuat sejarah, tetapi tidak untuk saat ini. Sulit untuk menemukan kekuatan untuk ingin bermain sepakbola lagi, tetapi saya yakin Tuhan akan memberi saya kekuatan yang cukup untuk menghadapi apapun. Saya tidak akan berhenti berterimakasih kepada Tuhan. Bahkan dalam kekalahan, karena saya tahu jalan Nya  jauh lebih baik daripada jalan saya. Saya sangat senang menjadi bagian dari tim ini saya sangat bangga dengan semua orang. Ini mengganggu mimpi kami, tetapi mereka tidak mengapusnya dari kepala kami atau hati kami….”

Apakah Brazil akan membuktikannya di Piala Dunia 2022?

Kita bersama akan menjadi saksi, dengan mengingat bahwa jika kita belajar dari kekalahan, sesungguhnya kita tidak (benar-benar) kalah. Demikian menurut Zig Ziglar

         

“Mengalahkan” Kemenangan

Salah satu Legenda sepak bola Inggris,  Garry Lineker atas kekagumannya dengan team Jerman pernah berkata bahwa, sepak bola itu permainan sederhana. Dua puluh dua pria mengejar bola selama 90 menit dan pada akhir pertandingan, Jerman selalu menang. Hal tersebut ia sampaikan sebagai kiasan.  Mengingat begitu seringnya Jerman memenangkan kejuaraan  tingkat dunia maupun Eropa. Mereka dikenal sebagai team elit dengan teknik dan taktik yang mumpuni dalam kerjasama team yang solid.

Namun apa yang terjadi pada piala dunia 2018?

Timnas Jerman yang pada Piala Dunia sebelumnya, digdaya menghajar Brazil di semifinal  dan meraih Tropi piala dunia 2014 dengan mengalahkan Argentina di Final,  justru kalah memalukan  dari team Asia : Korea Selatan dengan skor 0-2.   Kekalahan yang mencoreng sejarah emas Die Mannschaft. Inilah kekalahan tercepat dalam keikutsertaan Jerman di Piala Dunia dalam kurun 80 tahun.


Yang menarik adalah, jika saja  Jerman tidak menjadi juru kunci di group F - yang membuatnya tersingkir dari Piala Dunia 2018- maka bisa saja akan bertemu dengan Tim Brazil di babak 16 besar.

Paulinho, Gelandang Tim Nasional Brazil dengan berhati-hati mengomentari kekalahan tim Jerman. Dengan bijak ia berkata,

 “ tujuan kami adalah mencapai putaran 16 besar dan disanalah kami berada. Saya tidak resah tentang Jerman dan tidak akan berkomentar tentang apa yang terjadi pada mereka.”

Komentar tersebut berbeda dengan kalangan press Brazil, yang merasa “lega” karena kekalahan Jerman. Namun komentar sang Paulinho sangat tepat ! Seperti halnya Jerman, Brazilpun tersingkir dari Piala Dunia 2018.  Belgia menghentikan Brazil di babak perempat final dengan score 2-1.

Tersingkirnya Jerman di fase penyisihan group menjadi topik hangat dengan berbagai versi analisa. Ada rumor  yang menghubungkan kekalahan dengan ‘kutukan’ juara bertahan, seperti yang dialami  Juara Piala Dunia 2006 (Italia), 2010 ( Spanyol) dan kini 2014 (Jerman). Bahwa Juara PD sebelumnya tidak akan sukses di Piala Dunia berikutnya (?!). 

Selain itu ada juga beranggapan bahwa buruknya performa Jerman di PD 2018 justru karena menganggap enteng lawan di group F ( Swedia, Mexico dan Korea Selatan ). Selain itu, banyak yang menilai timnas Jerman 2018 ini tidak sesolid  timnas sebelum-sebelumnya. Kabarnya, team 'terpecah' menjadi dua 'kubu'. Yaitu alumni’ Piala Dunia 2014 dan Piala Konfederasi 2017. Pendapat lain lagi menyinggung mengenai  teknik pemain  dan taktik bermain team Jerman sangat mudah dibaca oleh lawan-lawannya.

Apapun itu, sang pelatih, Joachim Low dengan sportif mengatakan:

 " Kami pantas tersingkir."

" Taktiknya sudah jelas dan kami sudah banyak membahasnya, tapi kami tidak menjalaninya dengan baik."

"Ada rasa kecewa karena tereliminaasi di fase ini."

" Kami tidak pantas memenangkn piala dunia saat ini. Kami juga tidak pantas untuk melaju ke babak 16 besar ."

Setelah kekalahan Jerman tersebut, Garry Lineker sang legendaris, merubah pandangannya terhadap team Jerman



Apa yang akan Jerman tunjukkan di Piala Dunia 2022?


   Pemenang bukan berarti tidak pernah merasakan pahitnya kekalahan, hanya saja mereka menyikapi kekalahan dengan benar – MC Dimbud

·       Jika kita belajar dari kekalahan, kita sesungguhnya tidak kalah

·       Kemenangan terbesar bukan karena kita tidak pernah kalah, tetapi ketika kita tidak bisa bangkit dari kekalahan

 


Jumat, 30 Oktober 2020

Second Chance

Dear kamu, 
Ternyata bukan hanya waktu,  yang mampu membantu kita memahami apa yang terjadi waktu itu. Walaupun kamu atau aku sudah sering saling menjelaskan.  Pun dengan beberapa kali komunikasi langsung. Tetap saja ada yang sulit disampaikan secara lisan. 

Sampai ada satu moment yang tidak terduga.  Yang ternyata jauh lebih mampu membuat kita lebih terbuka satu  sama lain.  Setidaknya sejumlah pertanyaan telah terkonfirmasi. Walaupun masih ada saling mengelak.  Walaupun tidak merubah masa lalu.  

Moment tersebut adalah ketika 'Klub Blogger dan Buku / KUBBU' mengadakan program online di bulan Oktober 2020. Dengan tajuk '30 Hari Menulis Cerita'.  Dimana setiap hari,  peserta di tantang untuk menulis di blog  dengan tema yang sudah ditentukan. 

Selain menulis -walaupun tidak wajib- peserta diminta untuk share link tulisan kita di medsod.  Dengan hastag #KUBBU30HMC. Hal tersebut hanya sempat kulakukan  di paruh pertama program berjalan.  

Entah bagaimana mulainya. Kamu jadi lebih sering japri mengomentari postingan aku di IG di awal-awal program berlangsung.  Kamu juga rajin mampir ke blog membaca tulisan. Bertanya konteks maupun latar belakang tulisan. 

Lantas kita jadi sering diskusi. Bahkan hampir setiap hari. Tema yang kita bahas  jadi meluas. Bersinggungan langsung maupun tidak dengan tulisan . Termasuk hal yang sempat merenggangkan komunikasi  kita sebelumnya.

Benar hal tersebut telah menjadi bagian masa lalu.  Bagiku sudah tidak ada yang perlu diperjelas lagi.  Namun ternyata berbeda bagimu.  Bertahun-tahun  kamu menganggap penting penjelasan yang lugas, sepahit apapun.  Termasuk no second chance.

Program '30 Hari Menulis Cerita' itu sendiri sungguh  sangat  menyenangkan.  Selain kegiatan menulis,  hobby membaca  akupun semakin mengasikkan.  Karena setiap hari membaca buku-buku yang sesuai  dengan  tema hari tersebut. 

Keseruan program tersebut juga karena 'curhat' para peserta setiap hari. Berkaitan dengan tema, kesibukan yang menyulitkan menyisihkan waktu untuk menulis. Saling support antar peserta. Serta beberapa 'drama' lainnya.

Walaupun diniatkan untuk konsisten, di hari ke 18 dan 19 telat posting. Karena.... sudahlah tidak patut beralasan. Makanya sungguh salut kepada rekan-rekan yang menjaga komitmen. Setiap hari setor tugas menulis tersebut. Alhamdulillah, walaupun telat tulisan untuk hari tersebut, akhirnya di rapel di beberapa hari berikutnya. 

Yang tidak kalah menyenangkan adalah saat hunting  atau menyiapkan konsep foto berikut propertinya.  Tidak semua foto yang ditampilkan berhubungan secara langsung dengan tema seperti saat menulis tentang  hal-hal favorit.  Ada foto -foto yang menawarkan kiasan dari tulisan.  Seru kan? 

Bagi  saya tidak ada paksaan untuk menulis.  Walaupun sampai dengan hari terakhir program, yaitu hari ini.  Rasanya,  kemampuan menulis saya masih di bawah rata-rata.  Tulisan para peserta lain sungguh smart dan enak di baca. 

Walaupun  begitu,  aku tahu tetap ada second chance untuk menulis hal - hal lain setelah  program berakhir.  Sayang kalau hanya berhenti sampai disini.   Terlalu  banyak hal menarik lainnya  yang ingin aku tulis. Ada ataupun tidak ada lagi diskusi  dengan  kamu. 



Kamis, 29 Oktober 2020

Five Star


"Apakah saat itu,  kita akan menatap bintang  sama?"

Sepertinya tidak. Kita terdiam... di bawah langit yang sama.  Namun memandang ke arah yang berseberangan. Bintang pertama kita bernama: harapan yang berbeda. 

Aku berharap,  itu adalah kehangatan bintang yang  memberi terang. Yang setia menemani  saat-saat aku menyusuri pantai. Mengiringi langkahku menikmati debur ombak di keheningan malam. 

Betapa inginnya. Aku.  Tak sampai lima tahun,  sudah memiliki  pondok kecil yang berandanya tepat di tepi laut. 

Sedangkan,  kamu memilih bermukim di gedung jangkung.  Agar  lebih dekat memandang bintang harapanmu.  Pengalihan yang menenangkan dari kepenatan ibukota, alasanmu. 

*****
"Apakah kau ingat tentang bintang kebaikan? "

Kita telah melalui berbagai kesulitan.  Kita berkali-kali diselamatkan oleh kondisi. Bahkan oleh orang-orang yang kita tidak kenal.  Kini, saatnya kita mengembalikan bintang kebaikan kepada sesama melalui organisasi nirlaba.  Itu kataku. 

Kembali kamu terdiam.  Katamu,  cukup rutinkan donasi.  Tidak harus terlibat lansung.  Apalagi dalam lima tahun ke depan.  Masih terlalu banyak yang harus dikejar.  Bintang kedua kita,  orientasi yang berbeda. 

*****

"Apakah kita masih menunggu bintang jatuh seraya memanjatkan keinginan bersama? "

Bahwa kita akan bersama - sama menjelajahi  seantero jagat raya.  Walau tahun-tahun sebelumnya terkendala.  Semoga  dalam lima tahun kedepan dapat kita wujudkan. Seperti menonton kompetisi Piala Dunia, 2022 di Qatar. 

Aku optimis. Namun kamu pesimis.  Katamu,  untuk apa berkeliling dunia. Susah-susah mengumpulkan materi,  hanya perlu sedikit waktu untuk menghabiskannya.  

Bintang ketiga kita, cara menikmati hidup yang kini juga berbeda.

*****

"Apakah kita akan menunjuk bintang yang sama?"
Sayang sekali tidak.  Aku menunjuk rasi bintang Orion.  Rasi bintang yang menunjukkan adanya penggantian musim. Yang mengesankan kemampuan beradaptasi dengan hal-hal baru.

Ya aku ingin,  di lima kedepan, akan melakukan hal-hal yang tidak terpikirkan sebelumnya.  Sepertinya akan menyenangkan,  keluar dari jebakan rutinitas. 

Sedangkan kamu menunjuk rasi bintang scorpion. Dimitoskan, inilah rasi bintang yang mempunyai energi yang luar biasa. Gigih untuk mencapai tuntutan kehidupan. 

Orang  yang termasuk dalam rasi bintang ini,  seperti kamu,  akan melakukan  banyak  hal dengan cara unik. 
Tercapailah suatu target untuk mencapai  hal yang luar biasa.  Bagimu mencoba hal-hal baru  demi menghasilkan suatu prestasi.  menghasilkan hal yang terukur  dan terarah. 

Bintang ke empat kita,  tentang jarak yang makin jauh. Bintang kita kian tampak berbeda.

*****
"Apakah kita masih berkomitmen menjadi bintang abadi untuk satu sama lain? "

Kupastikan tidak.  Saat itu. Kita  masing-masing sibuk dengan target personal.  Tidak lagi menyisakan waktu untuk bertukar bintang yang akan sangat menguatkan satu sama lain. 

Dapat dikatakan bahwa bintang kelima kita sudah meredup tanpa sempat berkilau.

Rabu, 28 Oktober 2020

Nature Sign....

Bagaimana  jika ombak melupakan pantai?
Apakah angin tetap rindu mengacaukan nyiur? 
Jika karenanya hatimu tak berpenghuni
Biarlah badai datang mematahkan jangkar

Apa yang dikeluhkan telaga saat air mengering ?
Mungkinkah karena pesona teratai tersaingi colesia?
Bila sekedar membuncah asa di balik punggung
Kumbang tak akan pernah mendatangi  bunga

Mengapa awan meregang menutupi langit ?
Meski sang surya menggesernya berulang kali? 
Jadi janganlah mengurung hati sedemikian sempit
Pelita yang padam bukan akhir segalanya

Andaikan debu memburamkan arah
Walau rinai seperti ragu-ragu membantu
Jauhkan diri berputus asa melanjutkan langkah
Mungkin  saatnya kita berdamai dengan waktu

Selasa, 27 Oktober 2020

Whateverything


Dear kamu.  
Surat dari  kamu disampaikan kepada aku pada bulan Juni tahun itu, adalah surat pertama sekaligus yang terakhir dari dirimu.  Surat itu masih aku simpan.  Sampai Sekarang.  Surat  dengan bahasa penuturan terbaik, dalam konteks  yang sportif.  Sungguh menggugah. Namun setelah itu,  semuanya berubah. 

"Hai! Itukah kamu? "

Entah kenapa. Surat tersebut justru menciptakan jarak  di  antara kita.  Kamu seperti menjauhi orbit. Pun,  saat kita bertemu lagi.  Setelah  beberapa tahun kemudian . Yang aku rasakan,  kamu sengaja  menghindar. Andai Ada kesempatan untuk aku,  bertanya langsung padamu... 

Namun,  aku menghargai  sikapmu tersebut. Tak lagi menunggu  waktu untuk  saling bertukar kabar,  seperti dulu.  Aku juga putuskan untuk tidak  terlampau jauh mencari Tahu. Apakah kamu lebih nyaman? 


Jadi,  mengingat intensitas hubungan kita di masa lalu,  maka seperti kamu.  Akupun  berkirim  surat. 

" Setiap Jum'at sore...ya,  aku ingat!"

Dear kamu,  
Mana mungkin aku lupa. Yakinku, kamu juga masih mengingatnya.  Bagaimana  tidak?  Kita melalui jalan yang sama. Selalu.  Selama beberapa tahun. Setiap Jum'at sore. Sambil aku terkagum-kagum mendengarkan rencana berbagai aktivitas kamu berikutnya.  

Ya,  kamu sangat berbakat. Baik di bidang seni, olahraga,  asah otak, sosial budaya bahkan  religi. Kamu mengusainya bahkan berprestasi. 

"The Save of the Bel"

Kamu tahu.  Bahwa di tengah komunitas yang kita ikuti bersama. Hanya kamu yang membuat aku nyaman. Kamu membiarkan aku belajar banyak hal. Cara kamu support aku untuk tetap melanjutkan aktivitas dengan kemampuan terbaik,  sungguh Mengesankan.  

Beda sekali dengan mereka. Maksudku 
 teman-teman kita.  Begitu sering mereka mengusik aku yang -katanya- terlalu irit berkata-kata. Mereka penasaran bahkan curiga. Jangan-jangan aku mempunyai agenda  tertentu  yang -bisa jadi- menyusahkan mereka, kelak. 

Sesungguhnya aku tidak seperti yang mereka pikiran. Bersama mereka,  aku keasikan jadi pengamat. Ada atau tidak ada aku,  mereka sudah sangat heboh kok! Namun,  terimakasih, kamu tidak seperti  itu kepadaku. 

Uniknya, sepanjang perjalanan pulang bersama. Tak pernah sekalipun  kita membahas, mengapa hal tersebut hanya terjadi padaku. Padahal  ada juga yang lebih silent dari aku.  Namun mengapa mereka tetep saja mengusikku dengan berbagai dalih pembenaran yang sulit aku patahkan. 

"The True of Friendship, ini kita? "

Dear kamu,  
Tanpa terlihat membela aku. Tanpa tindakan heroik untuk menghindarkan aku dari gangguan mereka. Dengan caramu yang simpatik, aku dan kamu bisa lebih dulu meninggalkan mereka.  Aku mesti bilang apa?

"Apakah aku lupa,  berterimakasih? "

Dear kamu, 
Di surat tersebut,  aku baru tahu alasan tindakan kamu.  
Bahwa,  semuanya cerita tentang aktivitas kamu adalah cara kamu untuk  mengalihkan hal-hal yang membuat aku tidak nyaman. Kamu sengaja sama sekali tidak menyinggung hal tersebut,  agar aku focus ke hal - hal  lain yang lebih menyenangkan. 

Kamu tahu,  tidak mudah menghindari mereka. Namun tidak ingin juga menjauhi mereka.  Maka kamu terus melakukan  intrupsi dengan berbagai  cara. Dengan harapan, aku kelak juga mampu melindungi diri jika menjalani hal serupa di kemudian hari. 

Ketika menurut kamu,  aku sudah cukup tangguh. Itu waktunya untuk kamu berlalu.  Itu inti dari surat kamu. 

Dear kamu, 
Aku  ingin kita tetap bersahabat. 
Aku juga ingin melakukan hal yang luar biasa untuk sahabat,  seperti yang pernah kamu lakukan untuk ku

Aku harap kamu membalas surat ini
Tolong,  jangan  menghindar?

Ada apa denganmu "mr" ?