Rabu, 03 Oktober 2018

Crossing noted

Jangan salahkan jarak dan waktu
Saat kenyamanan berpagut ragu
     Pada jarak yang samar tertuju
     Pada waktu yang enggan menunggu 

Jangan sudutkan ruang atau situasi
Saat tautan sekedar pengisi hari
      Pada ruang yang disenyapkan sepi
      Pada situasi sulit di luar kendali 

Jangan singkirkan ikhtiar dari ikrar
Saat titian liat berlumpur
      Pada ikhtiar yang tiada berpijar
      Pada ikrar yang getas dianulir 

Jangan sumirkan nyata dengan khayal
Saat kebersamaan bertaruh sesal
      Pada kenyataan bermata artifisial
       Pada khayal yang riskan terpenggal 



Minggu, 09 September 2018

Moment of Wining

Ketenangan berputik kemenangan
Saat keterbatasan ditundukkan 
Keterbatasan berbunga kemenangan
Ketika kesempatan diperjuangkan

Kesempatan berbuah kemenangan
Walau kemampuan disangsikan 

Kemampuan mencederai kemenangan
Jika keangkuhan ditinggikan 

Keangkuhan menodai kemenangan
Andai keunggulan dipamrihkan 

Keunggulan mencoreng kemenangan
Apabila kejujuran ditanggalkan 

Sabtu, 25 Agustus 2018

Tahun Kedua (III)




Waham bermedia maaf itu bertajuk tuntutan
Yang jungkir balik mengatur nafas kehidupan
Dengan mengulik alur diafragma penyesalan
Sebab asas pembenaran terikat dikendalikan
          Mempersalahkan aku, dia

Citra bermuatan maaf adalah aib sempurna
Di setiap ruas pengakuan yang kaku tertata
Maklumat tanya tak bermata hati tanpa kata
Terpilihkan semua tiada satu bebas tersisa
        Mempermalukan aku, dia

Lebam kelabu otak disesaki residu maaf
Pemurnian yang tersumbat prahara khilaf
Tersandung objektif terkepung naif subjektif
Terpasung di pantas ambang angka atau huruf
         Menafikkan aku, dia

Saat sang pengubur jati diri pergi berlalu
Umpatan pecundang terhapus dari daftar menu
Seraya memunguti harga diri yang terbalut debu
Tertatih diri menggaris batas dengan masa lalu
           Menadirkan aku, dia

Sang pelumat jati diri tak mungkin kembali
Mesiu penatpun liar berhamburan unjuk diri
Tapi jejaknya kukuh tertinggal tak mau pergi
Tetap hadir di setiap sudut hati mengunci hari
              Dia, menjadikan aku, dia

Selasa, 14 Agustus 2018

45

Rasakan hangat yang sesekali
Tanpa diidentifikasi sebagai ada
Merentang senyum di ambang bebas


Resapi dalam bingkai imitasi
Tanpa identitas dinyatakan terbuka
Merentas sesaat di hantaran batas



Redakan tarik ulur imajinasi
Tanpa ikhtisar terlarut masa
Merintangi perisai diri terlepas



Rehatkan bisik yang datang lalu pergi
Tanpa meruap usang panca indra
Bagai merintis kandas di ceruk lawas

Beda

Bilahkah  di antara nyata
Dilepaskan atau dilupakan?
Jika  kemarin masih di hari ini
dan esok kembali menjadi kemarin


Katanya angin terhadang berpusara
Lalu alih menyerah saat berpandangan
Entah sebab membeku atau memuai
Hingga tercekik di mata dan pikiran


Tersengajakah rintik yang terbawa?
Berandai menahan atau membiarkan
Dimanakah kata akan dimulai
Jika guratan ini berkabut impian

Minggu, 29 Juli 2018

Risalah Biru

Katakan pada angkasa biru
Yang mengendus saru di awan berarak
Bahwa melumpurkan waktu sebagai perisai
Adalah sekawanan sia-sia 


Nyatakan pada samudra biru
Yang melengguhkan riak ombak
Bahwa melumutkan peristiwa dengan alibi
Adalah kesesatan hilangnya asa 


Bisikkan pada biduk yang membiru
Jangan lagi melumuri kasak kusuk
Saat terpenjara risalah terpungkiri
Karena persinggahan itu nyata adanya

Minggu, 22 Juli 2018

Tahun Kedua (II)

Bukan dia tapi aku
Yang melangkahi khayal selaksa nyata
Setelah muak diri di gelanggang sungkan
      Dia, hadirkan musim semi satu-satunya














Bukan aku tapi kau
Yang alpa menakar ikrar kita
Seakan deretan tahun adalah pentas santun
     Kau, hambarkan hidupku paruh kedua
 












Bukan kau atau dia, tapi aku
Yang pucat berpanggung parau bersuara
Senyapkan sukma berkabut luka tanya
   Aku, terpasung hampa demi kepatutan




















Bukan, itu bukan aku
Yang megah tertata adi prima
Sampirkan laku sempurna menapaki menara
Demi kau, dia atau kalian
     Tapi bukan demi aku, aku siapa?