Senin, 08 Oktober 2018

Rayakan Sekali Lagi


Untuk perbedaan yang lusuh diperdebatkan
Karena putihku menjelma hitam di kicaumu


Untuk harapan yang samar dinyatakan
Sebab kepak kita menukik jauh berliku


Untuk tarian di angkasa yang melesatkan
Walaupun hasrat terkunci kata merancau


Untuk teduh pandang sayap kenangan
Andai sesaat ini dipastikan surut berlalu


Untuk kebersamaan tak dipertahankan
Jika terandaikan dipaksa kaku membiru 


Untuk esok hari yang luruh terhapuskan
Setelah terkurungnya aku jauh darimu



Kamis, 04 Oktober 2018

Off Side

Bukan peluh malam, tapi keringat siang yang menyamarkan kita
Berparut gores serpihan karang andai kata
Berharap kering angin alihkan persembunyian fakta
Berpacu degup ombak yang melabuhkan satu rasa ke tengah samudera
Ah, betapa tak berpihaknya masa





Di balik kabut pagi, tautan risau terbujur
Dapatkah mengendapkan khilaf yang terbakar?
Dipagutkah lagi, mata hati yang tersulur?
Di kedamaian palung hati, akankah digelandang menggangsir atau terusir? 
Ah, sang waktu  jangan dulu berakhir 



  Keluhkan pada deru awan yang membuka terawang
Kilatan sarunya menggandakan sejuta halang
Karena kisruh yang bersahutan rawan meradang
Ketika hasrat membuncah mesti terhadang
Ah, pahitnya mengenang kenang 



Jauh menjauh kini tersimpul dekat mendekat
Jika ikatan terdahulu berurai runtutan penat
Jangan hamburkan janji usang yang berlarut
Jika jejak hari ke hari kian lusuh memberat
Ah, mengapa sulit menuntut

Mungkin akan ada yang terusik pergi
Meski bukan sekedar sekarang atau nanti
Mengakhiri segera sebelum sempat memulai   
maka malampun setengah gugup mengembalikan siang hari
Ah, betapa sulitkah dimengerti



Purna Senja tak akan sanggup mengelabui cakrawala
Patutkah menitip satu kisah terjeda?
Pergilah sejenak, sebelum tanya menebar bencana
Pamit yang bukan melapaskan tapi demi sementara
Ah, bilakah tiba saatnya....



Rabu, 03 Oktober 2018

Crossing noted

Jangan salahkan jarak dan waktu
Saat kenyamanan berpagut ragu
     Pada jarak yang samar tertuju
     Pada waktu yang enggan menunggu 

Jangan sudutkan ruang atau situasi
Saat tautan sekedar pengisi hari
      Pada ruang yang disenyapkan sepi
      Pada situasi sulit di luar kendali 

Jangan singkirkan ikhtiar dari ikrar
Saat titian liat berlumpur
      Pada ikhtiar yang tiada berpijar
      Pada ikrar yang getas dianulir 

Jangan sumirkan nyata dengan khayal
Saat kebersamaan bertaruh sesal
      Pada kenyataan bermata artifisial
       Pada khayal yang riskan terpenggal 



Minggu, 09 September 2018

Moment of Wining

Ketenangan berputik kemenangan
Saat keterbatasan ditundukkan 
Keterbatasan berbunga kemenangan
Ketika kesempatan diperjuangkan

Kesempatan berbuah kemenangan
Walau kemampuan disangsikan 

Kemampuan mencederai kemenangan
Jika keangkuhan ditinggikan 

Keangkuhan menodai kemenangan
Andai keunggulan dipamrihkan 

Keunggulan mencoreng kemenangan
Apabila kejujuran ditanggalkan 

Sabtu, 25 Agustus 2018

Tahun Kedua (III)




Waham bermedia maaf itu bertajuk tuntutan
Yang jungkir balik mengatur nafas kehidupan
Dengan mengulik alur diafragma penyesalan
Sebab asas pembenaran terikat dikendalikan
          Mempersalahkan aku, dia

Citra bermuatan maaf adalah aib sempurna
Di setiap ruas pengakuan yang kaku tertata
Maklumat tanya tak bermata hati tanpa kata
Terpilihkan semua tiada satu bebas tersisa
        Mempermalukan aku, dia

Lebam kelabu otak disesaki residu maaf
Pemurnian yang tersumbat prahara khilaf
Tersandung objektif terkepung naif subjektif
Terpasung di pantas ambang angka atau huruf
         Menafikkan aku, dia

Saat sang pengubur jati diri pergi berlalu
Umpatan pecundang terhapus dari daftar menu
Seraya memunguti harga diri yang terbalut debu
Tertatih diri menggaris batas dengan masa lalu
           Menadirkan aku, dia

Sang pelumat jati diri tak mungkin kembali
Mesiu penatpun liar berhamburan unjuk diri
Tapi jejaknya kukuh tertinggal tak mau pergi
Tetap hadir di setiap sudut hati mengunci hari
              Dia, menjadikan aku, dia

Selasa, 14 Agustus 2018

45

Rasakan hangat yang sesekali
Tanpa diidentifikasi sebagai ada
Merentang senyum di ambang bebas


Resapi dalam bingkai imitasi
Tanpa identitas dinyatakan terbuka
Merentas sesaat di hantaran batas



Redakan tarik ulur imajinasi
Tanpa ikhtisar terlarut masa
Merintangi perisai diri terlepas



Rehatkan bisik yang datang lalu pergi
Tanpa meruap usang panca indra
Bagai merintis kandas di ceruk lawas

Beda

Bilahkah  di antara nyata
Dilepaskan atau dilupakan?
Jika  kemarin masih di hari ini
dan esok kembali menjadi kemarin


Katanya angin terhadang berpusara
Lalu alih menyerah saat berpandangan
Entah sebab membeku atau memuai
Hingga tercekik di mata dan pikiran


Tersengajakah rintik yang terbawa?
Berandai menahan atau membiarkan
Dimanakah kata akan dimulai
Jika guratan ini berkabut impian