Sabtu, 27 Agustus 2016

Everlasting

Kuta
Sketsa cinta kita

Uluwatu
Canting rindu membara

Tanahlot
Lukisan senja bersaksi

Bedegul
Gerimis jingga mendekap

Denpasar
Noktah melukis hening

Bali
Di segenap penjurumu
Di sini...rasaku tak terpaling



Senin, 15 Agustus 2016

Sesaat



Kita belum memulai....
Saat kau mengakhiri

Luka diri tergores duri....
Perihnya hanya sesaat

Isyarat tidak darimu
Lukanya menggores hati
Perihnya bersaat saat....

Adakah kau tahu?
Setengah jiwaku melayang tak terarah
Ringan seperti kapas tertiup angin

Apakah ka tahu?
Setengah jiwaku karam  di dasar laut
Berat seperti batu terkubur

Nafasku terseret satu satu
Air mataku menggurita
Melihat kau tetap menjauh

Aahh....
Andai cinta tidak tiba tiba datang




Batas

















Kuantar kau ke gerbang
Berbunga harapan tentang kita
Kelakku kan kau bawa serta

Sang waktu terus beranjak
Dan aku terpaku di muka gerbang
Menggantang asa kita kan bersatu

Penuh cinta kuantar kau ke gerbang
Penuh duka tiada kabar darimu
Adakah ini tanda pengakhiran
Dirimu tak kunjung menjemput

Hatiku nanar
Mataku basah
Jiwaku patah
Ragakuluruh
Menunggu yang tidak tertunggu



Minggu, 07 Agustus 2016

Waktu



Sebentar tadi
Hujan melirik malam
Menitip sebaris pesan
Bahwa hidup berbatas Waktu

Sebentar tadi
Angin menikung hujan
Menembang sebait syair
Tentang hidup bersiap mati

Sebentar tadi
Debu terperangkap angin
Meradang kesan mengiba
Bahwa akhir waktu itu kepastian

          Sang Maha Waktu

Sebentar tadi
Pecahkan angkuhku
Remukkan naifku
Hempaskan adi nalarku
Terpelintir nafasku

          Betapa dhoif Imanku
          Sia sia kan waktu milik Mu

@ ..al asr 

Kamis, 04 Agustus 2016

Roda



Suara itu
Derit roda yang membawa mu pergi
Berbilang tahun berlalu

Disini
Kutunggu
Derit yang sama
Akankah membawamu kembali
Berbilang tahun kemudian




Langkah ini..



Kepada bumi...
Kutitipkan masa lalu

Kepada angin...
Keserahkan segala getir

Kepada langit..
Keterbangan kenangan indah

Kulepaskan semua  tentang kamu

Aku melangkah
Karena aku harus melangkah
Bersama Dia
Bersama masa depan 




Rabu, 20 Juli 2016

Titik Koma




Kau tancapkan titik di dada
saat tatap matamu membatu dalam sendu

Hening tadi mengantar lirih bisikmu:
..... kita sudahi semua...

Kita terdiam meraja getir

Tanpa tanya...
           terkunci kita
Tanpa jawab ..
           terpisah kita

Lantas tertunduk...
           perih
Bergegas menjauh...
           pedih

Luruhlah asa nan sempat terukir
Riak bersilang menghujam karam
Berpendar menahan niscaya
Nanarku rapuh menggengam

Nyatakan ini pengakhiran
Sisa diri merajuk titik bermain koma
Waktu yang merintang halang 
Tak kan sanggup pudarkan rasaku


Datang kembali padaku
Rindu ini memecah dada


Nyatakan lagi..

Rasamu berkarat tanpaku

Pintaku..

Bisakah kita ke titik semula
Ketika cinta alpa bersyarat